Pages

Senin, 21 Januari 2013

Gayo dan Rekor Muri

 

MURI dan GAYO


Para warga sedang menikmati kopi secara massal dalam pemecahan rekor MURI.(LG | Maharadi)
Para warga sedang menikmati kopi secara massal dalam pemecahan rekor MURI.

Minum Kopi Massal 50 Ribu Orang di Bener Meriah Masuk Rekor MURI

        REDELONG  - Minum opi massal sebanyak 50 ribu plus 1 orang dan pagelaran kesenian Didong sebanyak 2.013 peserta memecahkan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Penyerahan plakat MURI tersebut berlangsung pada penutupan Pacuan Kuda Tradisional Gayo di Lapangan Sengeda, Rembele Kecamatan Bukit, Bener Meriah, Minggu 13 Januari 2013.

         Acara tersebut dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah untuk memperigati Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Bener Meriah yang ke 9. Penutupan acara tersebut juga dihadiri oleh Menteri Pembagunan Daerah Tertinggal, Helmy Faishal Zaini, Anggota DPR RI Nova Iriansyah, Asisten Ekonomi dan Pembagunan Setda Aceh, Said Mustafa dan Mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf.

          Pihak Muri langsung menyerahkan piagam penghargaan kepada Bupati Bener Meriah Ruslan Abdul Gani, karena telah memecahkan rekor Muri minum kopi massal sebanyak 50 ribu plus 1 orang dan pagelaran kesenian Didong oleh 2.013 peserta yang langsung disaksikan oleh Menteri Pembagunan Daerah Tertinggal.

          Penutupan pacuan kuda tradisional gayo tersebut dimeriahkan oleh berbagai kesenian seperti Didong, Saman, Seudati, Kuda Kepang yang disaksikan oleh puluhan ribu pengunjung.[] (ihn)

Sumber: http://atjehpost.com

           MUSEUM Rekor Dunia Indonesia (MURI)kembali mencatat sejarah akan adat dan budaya dari dataran tinggi Gayo. Pada akhir pekan lalu lalu, Lapangan Pacuan Kuda Sengeda menjadi saksi bisu akan torehan sejarah bahwa sebanyak 50 ribu plus satu anak cucu ada menikmati sajian khas kopi Gayo.
Pemecahan rekor MURI ini bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Bener Meriah ke 9. Rekor tersebut memecahkan rekor MURI sebelumnya yang tercatat di Lampung dengan pada 9 Juli 2011 lalu dengan jumlah peserta yang minum kopi mencapai 24.664 orang.
Rekor tersebut diselenggarakan dalam rangka Lampung Fair 2011, Pemerintah Provinsi Lampung bekerjasama dengan PT. Grand Modern dan Kopi ABC menyelenggarakan kegiatan minum kopi peserta terbanyak, 24.664 peserta.
Rekor MURI yang berbau seni dan budaya Gayo juga sebelumnya sempat ditoreh, tarian Saman massal yang di ikuti 3.000 peserta yang diselenggarakan Kodam IM di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh pada 2010. Saat itu Pangdam IM dijabat Mayjen TNI Adi Mulyono. Rekor ini memecahkan rekor sebelumnya yang di ikuti 1000 peserta di Jakarta.
Pemecahan rekor MURI itu juga menjadi salah satu acuan untuk selanjutnya UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) secara resmi mengakuinya sebagai warisan dunia bukan benda pada 24 November 2011.
Meskipun belakangan ada yang mengklaim bahwa tarian Saman itu merupakan tarian umum layaknya tarian di daerah Aceh, seperti Tari Likok Pulo (Saman kepulauan Aceh), Seudati (Saman pesisir daratan Utara-Timur Aceh), Rapai Pulot atau Rapai Geleng (Saman pesisir Barat Aceh). Kesemuanya itu di klaim adalah Tari Saman Aceh.
Sayangnya klaim itu muncul belakangan, setelah UNESCO secara resmi mengakuinya sebagai warisan dunia bukan benda. Padahal, sebelumnya tarian yang di klaim Saman itu tidak pernah dikatakan Saman, melainkan langsung nama tarian tersebut seperti Tari Likok Pulo  atau Rapai Geleng, tanpa embel-embel saman di depan atau di belakang nama tarian tersebut.
Dalam banyak literatur menyebutkan tari Saman di Aceh didirikan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo. Tari Saman adalah sebuah tarian suku Gayo (Gayo Lues) yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat. Syair dalam tarian Saman mempergunakan bahasa Arab dan bahasa Gayo. Selain itu biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Sudahlah! Tak perlu kita persoalan klaim orang yang tak memahami apa itu tarian Saman dan bagaimana sejarah terbentuknya tarian Saman itu sendiri dataran tinggi Gayo Lues. Namun yang jelas, Saman adalah tarian khas Aceh yang berasal dari Gayo, khususnya Gayo Lues. Saman adalah budaya kita Urang Gayo, jika ada yang mengklaim anggab aja angin lalu. Ibarat kata pepatah, “Biarlah Anjing Menggonggong, kafilah tetap Berlalu”.
Satu yang terpenting, kita sebagai Urang Gayo harus bisa mempertahankan tradisi, adat dan budaya kita tetap eksis di negeri sendiri dan Berjaya serta memiliki nama di negeri orang. Bahwa Gayo itu ada Saman dan Saman itu adalah Gayo.

Para mahasiswa Gayo Lues sedang menarikan tarian Saman.(LG | a.ZaiZa)
Para mahasiswa Gayo Lues sedang menarikan tarian Saman.

          Setelah Saman, pada 13 Januari 2013 lalu, satu lagi ke khasan tanoh Gayo tercatat dalam MURI yakni minum kopi massal yang di ikuti 50.000 plus 1 orang. Bukan main-main, pemecahan rekor MURI minum kopi sebelumnya yang dicatat di Lampung ini, disaksikan langsung oleh Menteri Pembangunan daerah Tertinggal pada kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II.
Kopi bagi dataran tinggi Gayo bukanlah sesuatu yang baru. Sejak zaman penjajahan Kolonial Belanda dulu, masyarakat Gayo sudah mengenal kopi. Sahabat saya Win Rudi Bathin yang bagi saya dia merupakan salah satu pakar perkopian Aceh Tengah dalam tulisannya di Kompasiana, menyebutkan Wilayah Dataran Tinggi Gayo dimana kopi ini tumbuh tersembunyi di wilayah dereten pegunungan Bukit Barisan yang membentang Sumatera.
Wilayah Gayo berada di tengah Provinsi Aceh dengan ketinggian yang sangat ideal, yakni 1200 dpl serta dibagian Timur Kota Takengon, terbentang Danau Luttawar. Konon, Belanda membawa kopi arabika ke Takengen, dimulai pada tahun 1908. Penanaman pertama diduga di kawasan Utara Danau Luttawar Takengen, yakni Kampung Paya Tumpi Kecamatan Kebayakan Aceh Tengah.
Belanda kemudian menjadikan komoditi kopi sebagai tanaman eksport dengan tanaman lainnya, yakni getah pinus serta teh. Dengan bantuan investor Eropa, Belanda terus mengembangkan berbagai lokasi di Takengon untuk dijadikan perkebunan kopi.
Belanda menamai kopi sebagai “Tanaman Masa Depan” dan menyatakan masyarakat Gayo sangat cepat menerima masuknya komoditi baru seperti kopi. Kawasan perkebunan kopi ini kemudian menjadi perkampungan baru yang berkembang baik hingga saat ini.
Estimasi produksi kopi dari dua kabupaten Gayo, Takengen dan Redlong berjumlah 65.625 ton pertahun. Sehingga kawasan perkebunan kopi Gayo disebut sebagai lahan terluas untuk Kopi Arabika di Asia.
Tak salah jika memang MURI mencacat rekornya di daerah yang memang memiliki areal terluas untuk kopi arabika di Asia ini. Hanya saja, setelag rekor itu terpecahkan, apakah kita harus terlena dengan euphoria yang ada. Tentu jawabannya tidak. Namun kita sebagai urang Gayo harus terus bisa menjadikan komuditi kopi ini menjadi andalan hidup masyarakatnya.
Sebab, sejauh ini masyarakat petani kopi kita masihlah sebagai masyarakat miskin yang hidup serba kekurangan. Karenanya, rekor MURI hendaknya bukanlah sebatas pencitraan kedaerahan saja, melainkan harus bisa menjadi tonggak awal bagi pemerintah Bener Meriah dan Aceh Tengah untuk bisa mensejahterakan masyarakatnya.
Selain menjaga harga kopi tetap stabil dipasaran, dan menciptakan pabrik olahan kopi yang mampu menampung tenaga kerja yang banyak, salah satu cara lain dengan menjadikan lahan pertanian kopi warga sebagai kawasan agri wisata. Dimana, para pelancong dapat datang ke dataran tinggi Gayo untuk belajar, wisata dan keperluan lainnya yang bermanfaat.
Ini juga tentunya bisa bermanfaat bagi petani kopi secara financial, dimana kala kopi lagi tak musim, namun masyarakat ada penghasilan dengan kunjungan wisatawan yang datang ke dataran tinggi Gayo.
Potensi alam yang ada harus bisa dimaksimalkan, bukan saja danau lut Tawar atau kawasan wisata alam Pantan Terong yang bisa “dijual” namun banyak hal yang bisa dipromosikan ke dunia luar, bahwa Aceh Tengah dan Bener Meriah memang kawasan potensi wisata yang “wajib” di kunjungi.
Sekali lagi, sudah saatnya pemerintah daerah Aceh Tengah dan Bener Meriah bahkan Gayo Lues, membuka mata dan buka telinga, bahwa daerah Gayo ini memang sangat-sangat kaya akan potensi alam, tinggal bagaimana memaksimalkannya menjadi sumber daya yang mumpuni, hingga bisa membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya.


http://www.lintasgayo.com/33542/muri-dan-gayo.html

Kopi Gayo Termahal di Dunia

090512foto.6_.jpg
SUASANA di salah satu stand produsen dalam pameran kopi dunia ke-24 di Portland, Oregon, AS yang diselenggarakan Specialty Coffee Association of America (SCAA) selama empat hari, 19-22 April 2012. FOTO:SCAA

 Kopi Gayo Termahal di Dunia    
* Dalam Pameran Kopi di Oregon, AS

TAKENGON - Kopi asal dataran tinggi Gayo, jenis arabika menjadi kopi termahal di dunia pada 2011 lalu, mengalahkan produsen terbesar dunia, Brazil. Hal itu terungkap dalam pameran kopi dunia yang diselenggarakan organisasi Specialty Coffee Association of America (SCAA) di Portland, Oregon Convention Center, Amerika Serikat.

Perhelatan akbar itu diikuti produsen kopi dan ikutannya dari seluruh dunia, khususnya dari kawasan tropis, seperti Amerika Latin, benua hitam Afrika dan Asia. Para pengurus koperasi bidang perkopian Aceh Tengah dan Bener Meriah ikut meramaikan pameran kopi tersebut selama empat hari, 19 sampai 22 April 2012.

Ketua Forum Fair Trade Asia Pasifik, Mustawalad yang mengikuti pameran kopi di Oregon kepada Serambi Selasa (8/5) di Takengon mengatakan harga kopi Gayo merupakan yang termahal di AS, sehingga posisi pasar turun dari empat pada 2010 menjadi lima pada 2011.

“Meski peringkat kopi Gayo turun di pasar Amerika Serikat, namun jumlah yang dipasarkan meningkat 11 persen,” jelasnya. Dia menyebutkan, kopi Brazil atau Kolombia asal Amerika Latin hampir setengah harga dari kopi Gayo. Kopi Amerika Latin dibandrol 3,5 sampai 4 dolar AS/kg atau sekitar Rp 32.000 sampai Rp 37.000/kg.

Sedangkan kopi arabika Gayo 7,2 sampai 8 dolar AS/kg atau sekitar Rp 67.000 sampai Rp 74.000/kg. Dia menilai, kopi Gayo memiliki cita rasa khas dibandingkan dari negara lain, sehingga harganya lebih mahal. “Kopi Gayo merupakan kopi khusus (specialty) dengan skor cupping test di atas 80,” jelasnya.

Selain itu, sejumlah produsen kopi Gayo juga mendapat kontrak baru dari pembeli Amerika yang diperoleh saat ikut pameran di Oregon. “Koperasi asal Aceh Tengah dan Bener Meriah yang ikut dalam pameran itu, masing-masing membawa lima sampel bersertifikat Fair Trade dan Organik,” ujar Mustawalad.

Pameran SCAA yang bertujuan menjaga hubungan dengan pembeli di Amerika Serikat, sebagai penikmat kopi Gayo terbesar selain mendapatkan pembeli baru serta perkembangan kopi dunia, seperti mesin pengolahan hingga paking. “Dalam pameran itu, ada sekitar 350 stand dengan jumlah eksebitor (peserta) pameran sebanyak 775 peserta dari berbagai negara penghasil kopi,” pungkas Mustawalad.(c35)

Jumat, 08 Juni 2012

Kopi Gayo

 

 

KOPI GAYO




Kopi Gayo (Gayo Coffee) merupakan salah satu komoditi unggulan yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo. Perkebunan Kopi yang telah dikembangkan sejak tahun 1908 ini tumbuh subur di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues. Ketiga daerah yang berada di ketinggian 1200 m dpl tersebut memiliki perkebunan kopi terluas di Indonesia yaitu dengan luasan sekitar 94.800 hektar. Masing-masing di Kabupaten Aceh Tengah 48.000 hektare yang melibatkan petani sebanyak 33.000 kepala keluarga (KK), Bener Meriah 39.000 hektare (29.000 KK) dan 7.800 hektare di Kabupaten Gayo Lues dengan keterlibatan petani sebanyak 4.000 KK.

Gayo adalah nama suku asli yang mendiami daerah ini. Mayoritas masyarakat Gayo
berprofesi sebagai Petani Kopi. Varietas Arabika mendominasi jenis kopi yang dikembangkan oleh para petani Kopi Gayo. Produksi Kopi Arabika yang dihasilkan dari Tanah Gayo merupakan yang terbesar di Asia

Atas dedikasi dan kerjasama dalam menjaga kualitas Kopi Gayo miliknya,
Persatuan Petani Kopi Gayo Organik (PPKO) di Tanah Gayo telah mendapat Fair Trade Certified™ dari Organisasi Internasional Fair Trade dan pada tanggal 27 Mei 2010, Kopi Gayo menerima sertifikat IG (Indikasi Geogafis) diserahkan kepada pemda oleh Menteri Hukum dan HAM Indonesia. Kemudian pada Event Lelang Special Kopi Indonesia tanggal 10 Oktober 2010 di Bali, kembali Kopi Arabika Gayo memperoleh score tertinggi saat Cupping Score. Sertifikasi dan prestasi tersebut kian memantapkan posisi Kopi Gayo sebagai Kopi Organik terbaik di Dunia.
----------------------------------
Bener Meriah: Petani kopi di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, Aceh, akan mendapat dana premium sosial dari Fair Trade senilai Rp173 miliar pada tahun ini. Premium sosial itu diperoleh setelah penjualan kopi Gayo mencapai target yang ditetapkan perdagangan dunia.

Dari jumlah dana premium sosial itu, 25 persen dialokasikan untuk peningkatan produksi dan penyelamatan lingkungan, serta tujuh persen untuk petani. Saat ini data dari Dinas Perkebunan Pemkab Bener Meriah, jumlah petani Fair Trade 25.438 orang dengan luas lahan 29.183 hektare. Estimasi produksi 43.775.865 kilogram diperkirakan selama 2012.

Direktur Jenderal Kementerian Pertanian Jamil Musanif saat panen raya kopi Gayo, Senin kemarin, mengatakan, sasaran Deptan terhadap petani kopi Gayo mencapai 4.000 dolar perkapita guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Gayo, khususnya Bener Meriah.

Jamil juga mengakui dari segi potensi dan prospek, kopi Gayo sangat terbuka lebar di pasar dunia. Selain disukai, menurut Fair Trade Amerika, kopi Gayo masuk salah satu kopi termahal di dunia.

Saat ini dari lebih 47.000 hektare lahan kopi di Aceh Tengah dan Bener Meriah, sebanyak 90 persen atau hampir Rp1,3 triliun dihasilkan dari produksi kopi nasional.



Bupati Buka Festival Kopi Gayo

REDELONG - Festival Internasional Panen Raya Kopi Gayo (Coffee Harvest International Festival Regency Gayo Highlands) hari ini, Sabtu (28/4) mulai digelar di Bener Meriah. Pj Bupati Bener Meriah, T Islah membuka secara resmi di Pendopo Bupati Bener Meriah, dilanjutkan penyerahan bibit kopi serta seminar.

Direncanakan, peserta dari dalam dan luar negeri akan ikut serta, selain sejumlah elemen masyarakat daerah paling barat Indonesia ini. Seperti, empat pejabat dari kementerian, beberapa bupati penghasil kopi, juga pengusaha dari kawasan Asia, Australia, Jepang, Korea, dan Amerika Serikat. Untuk lokal, diikuti perwakilan Pemerintah Provinsi Aceh, para pengusaha eksportir kopi, kelompok tani, paguyuban pengusaha kopi, termasuk para akademisi dan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Aceh. Namun sampai kemarin sore, pihak panitia belum memastikan pejabat atau negara yang akan hadir.

“Sampai sore ini (kemarin-red), belum ada informasi tentang jadi atau tidaknya menteri hadir dalam acara ini, tetapi yang jelas Dirjen Pertanian akan datang,” ujar T Islah kepada Serambi Jumat (27/4). Dia menjelaskan, seluruh persiapan telah rampung dan diharapkan berjalan baik. “Kita tinggal menunggu, siapa saja yang akan datang pada acara ini,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia, Ir H Tagore Abubakar, menyebutkan kegiatan ini merupakan salah satu ajang promosi potensi daerah. Dia menilai, kehadiran para tokoh nasional, penentu kebijakan dan pengusaha luar negeri akan memberi nilai tambah untuk meningkatkan perekonomian para petani kopi daerah ini.

“Kita juga ingin menunjukan kepada masyarakat, baik konsumen mancanegara maupun para petani di dataran tinggi Gayo bahwa kopi Gayo dengan varietas arabika merupakan kopi terbaik di dunia karena memiliki cita rasa yang khas dan telah menjadi primadona masyarakat dunia,” demikian diungkapkan Ir H Tagore Abubakar yang juga mantan Bupati Bener Meriah itu.


Warga Lima Negara Panen Kopi Gayo

REDELONG - Acara puncak Festival Internasional Panen Raya Kopi Gayo berlangsung Minggu (29/4) di Kampung Batin Baru, Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah. Acara tersebut ditandai dengan keikutsertaan seluruh peserta termasuk perwakilan dari lima negara (calon pembeli atau buyer) melakukan panen kopi.

Calon buyer yang ikut panen kopi gayo tersebut berasal dari Afrika Selatan, Korea, Cina, Taiwan, dan Singapura. Selain warga negara asing ikut memetik kopi, juga beberapa pejabat negara yang datang dari Jakarta. Lokasi panen di kebun warga Kampung Batin Baru.

sejumlah warga negara asing yang mengikuti Festival Internasional Panen Raya Kopi Gayo, mengakui Kabupaten Bener Meriah bukan hanya memiliki potensi komoditi kopi yang sudah dikenal di seluruh dunia namun juga memiliki alam yang cukup indah.

Managing Director Imex Corporation LTD yang bermarkas di Korea Selatan, Eugene Song mengatakan, kopi gayo memiliki cita rasa paling baik. “Bahkan paling baik di dunia,” katanya dalam bahasa Inggris.

Pendapat serupa juga disampaikan Paul, asal Afrika Selatan. “Inilah sebenarnya kopi organik tanpa menggunakan pupuk kimia. Kopi seperti ini yang sangat dicari di pasaran dunia,” timpal Paul.

Festival Internasional Panen Raya Kopi Gayo di Bener Meriah berlangsung dua hari dirangkai dengan sejumlah acara. Acara tersebut dibuka Deputi Menteri BUMN, Dr Parikesit Suprapto, Sabtu (28/4). Rangkaian acaranya antara lain cupping tes kopi, pameran produk lokal, seminar, dan lain-lain. Pada hari kedua kemarin dilakukan peresmian resi gudang di Puskud Pante Raya.

Petani Masih Miskin

BERBAGAI kalangan termasuk pihak panitia pelaksana Festival Internasional Panen Raya Kopi Gayo mengakui keunggulan kopi yang dihasilkan dari dataran tinggi gayo tersebut. Namun, ironisnya, di tengah semakin terkenalnya kopi gayo, ternyata petaninya masih hidup miskin.

“Kami berharap dengan adanya festival ini dapat membantu para petani mengenalkan kopinya guna mencapai pemasaran yang baik serta meningkatkan pendapatan melalui perdagangan kopi arabika gayo organik,” kata panitia pelaksana, Gazali Hansen.

Gazali Hansen menyebutkan, kopi arabika gayo, telah dikenal di dunia namun para petaninya masih miskin karena adanya tekanan dari luar. Masih menurut Ghazali, melalui kegiatan ini juga akan dicarikan solusi pemecahan permasalahan yang dihadapi petani.

Sudah 25 Orang Daftarkan Diri Ikut Pemilihan “Putri Kopi Gayo”

Takengon | Lintas Gayo – Menjelang hari pelaksanaan audisi Putri Kopi (Miss Coffee-red) Gayo tahun 2012 untuk wilayah Tengah (Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues), yang akan dilaksanakan pada, Minggu (06/05/2012), Forum Aka Abang Takengon (Fakat) dipercayakan sebagai pelaksana kegiatan ini.

Ketua pelaksana kegiatan ini, Fahriel Firnanda, Senin (30/04/2012) mengatakan, pihaknya telah siap menggelar audisi Putri Kopi untuk wilayah tengah.

“Hingga saat ini tidak ada halangan yang melintang untuk mensukseskan acara ini, sejauh ini panitia telah siap melaksanakannya, baik dari segi teknis dan tempatnya”, kata Fahriel.

Ditambahkannya, peserta yang mendaftar sementara ini sebanyak 25 orang, dengan rincian 15 orang peserta dari Kabupaten Aceh Tengah, 5 peserta dari Bener Meriah dan 5 peserta dari Gayo Lues, dan panitia masih membuka pendaftaran hingga tanggal 5 Mei 2012 mendatang, rinci Fahriel.

Dilanjutkannya, para peserta audisi pemilihan putri kopi ini akan dikarantina sebelum diselenggarakannya acara puncak pada tanggal 9 Mei 2012 mendatang di hotel Bayu Hill Takengon.

“Sebelum acara puncak, peserta kita karantina, diberi pembekalan selama dua hari di hotel Bunda Takengon”, terang Fahriel.

Untuk pemenang audisi nantinya akan diberikan hadiah berupa bingkisan dan uang pembinaan serta berhak mengikuti pemilihan putri kopi tingkat Provinsi Aceh pada 19 Mei 2012 di Museum Tsunami Banda Aceh yang akan dilaksanakan oleh Aceh Multivision.

“Hingga saat ini kami belum menerima informasi, berapa peserta dari yang dikirim untuk mewakili wilayah tengah ke tingkat Provinsi Aceh, kemungkinan 2 atau 3 peserta terbaik yang akan kita kirim”, kata Fahriel seraya menegaskan jika di Tanoh Gayo even ini disebut Putri Kopi dan untuk tingkat Provinsi, Nasional dan dunia, ajang ini disebut sebagai pemilihan Miss Coffee.

Seperti diberitakan sebelumnya, pemilihan Putri Kopi (Miss Coffee-red) bertujuan untuk mempromosikan produk unggulan Indonesia ke belahan dunia. Salah satu produk unggulan itu adalah kopi.

Indonesia merupakan negeri penghasil kopi terbesar di dunia. Oleh karena itu guna memupuk kecintaan terhadap produksi, memajukan, mempromosikan, meningkatkan citra dan ekspor kopi Indonesia di kancah dunia, Asosiasi Duta Indonesia (ADI) menggelar kontes Miss Coffee Indonesia 2012. Kompetisi yang dihelat ini juga bertujuan menguatkan pencanangan agrowisata di Indonesia.

Sumber: www.lintasgayo.com

Produsen Kopi Gayo Ikut Pameran di AS

MedanBisnis – Redelong. Koperasi dari dataran tinggi Gayo akan mengikuti pameran kopi terbesar di dunia yang diadakan Specialty Coffee Association of America (SCAA) di Oregon Convention Center, Portland, Oregon, Amerika Serikat (AS). Pameran diadakan selama tiga hari, mulai tanggal 19 hingga 21 April 2012.
Untuk tahun 2012 ini, yang ikut langsung dalam pameran tersebut adalah Iwan Rahmat dari APKO, Shalat dan Aulian dari GLOC, serta Armiya dari Permata Gayo. Sementara utusan dari Asosiasi Producers Fair Trade Indonesia dan Forum Kopi Fair Trade Asia Pasifik adalah Mustawalad yang menjabat ketua organisasi tersebut.

"Agenda SCAA adalah pelaksanaan pameran kopi dan pameran peralatan yang berhubungan dengan kopi, simposium dan barista," jelas Mustawalad, Senin (16/4).

Dia menambahkan, pameran kopi terbesar ini juga akan dihadiri eksportir kopi Gayo seperti CV Ujang Jaya, GLOC dan Permata Gayo.

Produser kopi dari Gayo akan membuka dua booth (stand), yakni stand untuk pasar internasional dan stand untuk pasar AS. Pasar AS dibantu Fair Trade USA yang akan dikoordinir Armiya dan tiga koperasi yaitu APKO, GLOC serta Permata Gayo.

"Dan untuk pasar yang lebih luas seperti Eropa, Asia dan Amerika sendiri, stand kopi Gayo bersama Fair Trade International, dimana lokasi kedua stand tersebut tidak terlalu berjauhan," tambah Mustawalad.

Dijelaskan lagi, sampel untuk kebutuhan pameran ini berasal dari koperasi-koperasi yang telah memiliki sertifikat fair trade dan organik. Koperasi di Aceh Tengah dan Bener Meriah yang memiliki sertifikat tersebut yakni Koperasi Ketiara, Adil Wiladah Mabrur, Kopi Gayo Organik (KKGO), Bies Utama, Sara Ate, Arinagata, Askogo, Tunas Indah, Asosiasi Petani Kopi Organik (APKO), Gayo Linge Organic Coffee (GLOC), Gayo Mandiri dan koperasi Permata Gayo.

"Bagi produser kopi Gayo, ini merupakan kesempatan yang sangat penting karena Amerika merupakan pasar utama kopi Gayo. Pada tahun 2010 kopi Gayo yang bersertifikat fair trade dan organik menempati urutan kopi keempat yang dijual di pasar Amerika," jelas Mustawalad.

Dalam pameran kopi ini, petani atau produser kopi dapat bertatap muka langsung dengan penikmat kopi, yakni mereka yang sebelumnya telah membeli kopi dari importir di AS. "Harapan kita adalah, ini dapat membuka lebih luas akses pasar untuk kopi Gayo baik itu di Amerika Serikat dan negara Eropa serta pasar baru di Asia," imbuh Mustawalad.

Setelah selesainya acara pameran, nantinya beberapa perwakilan koperasi akan melanjutkan lawatannya ke kanada serta beberapa negara Eropa seperti Swiss, guna menjajaki pemasaran kopi Gayo.
 

Seni Dan Tarian Gayo


SENI DAN TARIAN GAYO


SENI DAN TARIAN GAYO

Seni dan tarian Gayo diantaranya :

  1. Didong
  2. Didong Niet
  3. Tari Saman
  4. Tari Bines
  5. Tari Guel
  6. Tari Munalu
  7. Tari Sining
  8. Tari Turun Ku Aih Aunen
  9. Tari Resam Berume
  10. Tuak Kukur
  11. Melengkan
  12. Dabus

Suatu unsur budaya yang tidak pernah lesu di kalangan masyarakat Gayo adalah kesenian, yang hampir tidak pernah mengalami kemandekan bahkan cenderung berkembang. Bentuk kesenian Gayo yang terkenal, antara lain tari saman dan seni bertutur yang disebut didong. Selain untuk hiburan dan rekreasi, bentuk-bentuk kesenian ini mempunyai fungsi ritual, pendidikan, penerangan, sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial masyarakat. Di samping itu ada pula bentuk kesenian Seperti: Tari bines, Tari Guel, Tari munalu,sebuku (pepongoten), guru didong, dan melengkan (seni berpidato berdasarkan adat), yang juga tidak terlupakan dari masa ke masa, Karena Orang Gayo kaya akan seni budaya.

Dalam seluruh segi kehidupan, orang Gayo memiliki dan membudayakan sejumlah nilai budaya sebagai acuan tingkah laku untuk mencapai ketertiban, disiplin, kesetiakawanan, gotong royong, dan rajin (mutentu). Pengalaman nilai budaya ini dipacu oleh suatu nilai yang disebut bersikemelen, yaitu persaingan yang mewujudkan suatu nilai dasar mengenai harga diri (mukemel). Nilai-nilai ini diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dalam bidang ekonomi, kesenian, kekerabatan, dan pendidikan. Sumber dari nilai-nilai tersebut adalah agama Islam serta adat setempat yang dianut oleh seluruh masyarakat


.

PACUAN KUDA TRADISI GAYO





PACU KUDE

        Pacuan Kuda Tradisional Gayo dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-65 dan HUT TNI ke-65 tahun 2010, di Aceh Tengah berakhir,   dari tiga   Kabupaten serumpun  yaitu Gayo Lues, Bener Meraih dan Aceh Tengah, yang memiliki kuda-kuda Pacu, baik lokal maupun Peranakan dalam berbagai kelas dan katagori yang diperlombakan.  Akhirnya  melalui hasil perolehan dan dominasi  pemenang, Kabupaten  Aceh Tengah berhasil mempertahankan  posisi sebagai juara umum  tahun 2010, yang dilaksanakan di Arena Pacuan Kuda Haji Muhammad Hasan Gayo Belang Bebangka Pegasin,  selama 7 hari sejak 04 hingga 10 Oktober 2010

          Berkunjung ke tanoh Gayo, sebuah Wilayah Dataran Tinggi di Takengon Kabupaten Aceh  Tengah, terasa  kurang jika tidak menyaksikan Pacuan Kuda “Pacu Kude”, sebuah event yang selalu ditunggu-tunggu dan membawa berkah di tiga Kabupaten di Gayo, yaitu Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues.
Dengan segala keunikannya, “Pacu Kude” adalah sebuah event perlombaan Pacuan Kuda Tradisional. Tradisi yang telah turun temurun, melekat sekian lama. 






Danau Laut Tawar

Danau Laut Tawar


View Danau Air Tawar. (Dok.
 acehprov.go.id)

View Danau Air Tawar



   Danau Laut Tawar merupakan kebanggan untuk masyarakat Aceh. Danau ini terletak di Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, Kota Takengon, Nangroe Aceh Darussalam. Luasnya yang memncapai 5.472 hektar, menjadikan danau ini yang terluas di Provinsi Aceh. Wisata alam yang satu ini seng di datangi oleh wisatawan lokal ataupun asing. Awal mula disebut Laut Air Tawar karena luasnya seperti laut, tetapi rasa asirnya tidaklah asin melainkan tawar sehingga masyarakat menyebutnya sebagai Danau Laut Air Tawar.

         Danau ini memiliki daya tarik yang bisa menarik wisatawan untuk berkunjung ke danau ini. Selain itu di sini juga menyimpan banyak kekayaan flora dan fauna. Fauna yang paling terkenal adalah ikan depik. Ikan depik adalah ikan hias yang memiliki tubuh ramping, sisiknya putih berkilau, dan ukurannya yang hanya sebesar jempol tangan.
Konon menurut cerita masyarakat Gayo, ikan depik berasal dari butiran nasi yang dibuang ke danau. Mereka akan muncul ke permukaan pada musim hujan. Masyarak Gayo juga menganggap bahwa ikan depik merupakan anugerah dari Tuhan, meskipun dikonsumsi terus-menerus ikan ini tidak akan habis.
Ada fauna juga ada flora. Wisatawan yang datang ke tempat ini bisa melihat para warga yang sedang bercocok tanam. Tempat ini terkenal dengan kopi gayo, markisa, tomat, jeruk keprok gayo, dan alpukat.
Wisatawan juga bisa melakukan banyak aktivitas, seperti memancing ataupun menaiki kapal motor yang siap membawa Anda berkeliling melihat keindahan danau. Keindahan dua bukit yang mengapit danau ini, semakin memperlihatkan keindahan alam disekitar Danau Laut Tawar.

       Untuk urusan biaya, tempat wisata ini tidak memungut biaya masuk. Akses jalan yang digunakan untuk ke tempat ini cukup mudah dan murah. Menuju Takengon lebih mudah ditempuh lewat Kota Bireun. Setelah itu Anda bisa menaiki angkutan elf yang menuju Takengon. Perjalan menuju Takengon akan di tempuh selama 5 jam dengan biaya Rp25.000. Wisatawan juga bisa menggunakan jalan alternatif menuju Takengon melalui Blang Kejeren dan Kutacane. Semua rasa lelah diperjalanan akan hilang jika sudah menikmati keindahan alam Danau Laut Air Tawar.

Asal Mula Danau Laut Tawar

Asal mula Danau Laut Tawar (Aceh)


Danau Laut Tawar adalah sebuah danau dan kawasan wisata yang terletak di Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Nanggröe Aceh Darussalam. Suku Gayo menyebutnya dengan Danau Lut Tawar. Luasnya kira-kira 5.472 hektar dengan panjang 17 km dan lebar 3,219 km. Volume airnya kira-kira 2.537.483.884 m³ (2,5 triliun liter).


Alkisah dulu di Takengon pernah ada sebuah kerajaan, tdk diketahui secara jelas apa nama kerajaannya tapi yang pasti di kerajaan itu ada seorang putri yang bernama Putri Pukes.

Putri Pukes mencintai seorang pria dari kerajaan lain tapi hubungan mereka tdk disetujui oleh orang tua Putri Pukes. Tapi sang putri tetap teguh dgn keinginannya sehingga akhirnya terjadilah pernikahan.

Saat Putri Pukes akan pergi menuju kerajaan suaminya, orang tua yg dari awal hubungan mrk tdk setuju berpesan, "Jika kau sudah pergi meninggalkan kerajaan ini janganlah sekalipun engkau palingkan wajahmu ke belakang "

Sang putri yang saat itu bimbang antara sayang dengan orang tuanya serta cinta pada suaminya ternyata tidak dapat menahan kesedihan akibat kehilangan itu . Serta merta saat perjalanan yang dikawal oleh beberapa prajurit itu sang putri tdk sadar memalingkan wajahnya ke belakang…tiba-tiba bersamaan dengan itu datanglah petir yg diiringi dengan hujan lebat.

Para pengawal menganjurkan kepada putri utk berteduh di sebuah gua yang tidak jauh dari tempat mereka.

Setelah berteduh dan mereka akan melanjutkan perjalanan, para pengawalpun memanggil putri yg berdiri di sudut sendirian. Tapi dipanggil berkali-kali sang putri tdk menyahut, ternyata setelah didatangi badan sang putri sudah mengeras seperti batu.

Sampai sekarang patung membatu sang putri sudah membesar di bagian bawahnya, tapi msh jelas bentuk sanggul dan perawakan yg mungil dari sang putri. Bagian bawah badannya yg besar katanya diakibatkan air matanya yg sampai skrg kadang-kadang masih jatuh. Kata sang penjaga jika orang yang mengunjungi dan mengetahui kisah putri trus merasa sedih patung sang putri bisa saja tiba-tiba akan ikut mengeluarkan air mata juga.

Di sana juga ada lubang tempat suami sang putri lari, yg katanya sampai sekarang arwahnya masih sering menjaga sang putri…begitulah kata sang penjaga.

Akibat hujan deras tadi terjadilah Danau Laut Tawar yang sampai sekarang masih dikunjungi oleh orang.

Jalanan Menuju Lokasi Wisata Danau Laut Tawar Takengon Aceh Indinesia Yang Harus Di Perhatikan

Danau Laut Tawar Juga Ramai

  Jalan menuju lokasi wisata Danau Laut Tawar di Takengon, Aceh, ini perlu diperbaiki.
TAKENGON, Kawasan wisata Danau Laut Tawar di Takengon, Aceh Tengah, Provinsi Aceh,, juga dipadati pengunjung. Mereka bukan hanya berasal dari kabupaten tetangga Kabupaten Aceh Tengah, tetapi juga dari Kabupaten Bireuen, Aceh Utara, sampai Pidie.
Mereka menikmati akhir pekan terakhir masa libur Lebaran sebelum kembali beraktivitas mulai Senin. Para pengunjung menggunakan mobil pribadi, mobil bak terbuka, truk, dan sepeda motor untuk berjalan-jalan menikmati Danau Laut Tawar.
Sayang, kondisi infrastruktur yang kurang terawat dan jalan yang sempit dengan pagar pembatas jurang yang minim cukup mengganggu wisatawan. Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah tampak kurang memerhatikan salah satu kawasan wisata yang terkenal di Tanah Gayo tersebut.
Danau Laut Tawar merupakan salah satu sumber kehidupan masyarakat Gayo. Ikan endemik khas Danau Laut Tawar yang terkenal adalah ikan Depik, yang berbentuk kecil seperti teri dan mirip dengan ikan bilih di Danau Maninjau di Sumatera Barat.
Berikut beberapa hal tengan Danau Laut Tawar:
1. Kondisi jalan yang mengitari Danau Laut Tawar banyak berlubang perlu perbaikan segera.
2. Masyarakat mengendarai sepeda motor sambil menikmati keindahan Danau Laut Tawar, sehingga membahayakan pengendara lain saat ramai pengunjung.
3. Pengunjung yang ramai menjadi berkah bagi masyarakat di tepi Danau Laut Tawar yang membuka warung dengan menu mi instan, kopi Gayo, jagung bakar, sampai ikan tawar bakar.
4. Untuk melepas lelah setelah berkendara mengeliling Danau Laut Tawar sejauh 31 kilometer, pengunjung bisa beristirahat di warung sambil menikmati keindahan danau.
5. Keindahan Danau Laut Tawar bisa disaksikan dari desa.
6. Pengunjung harus ekstra hati-hati mengemudikan kendaraan karena minimnya pagar pembatas jurang dan jalan di tepi Danau Laut Tawar, Takengon. Sebaiknya, pengunjung parkir di tempat yang aman dan tidak mengganggu lalu-lintas pengguna jalan lain saat menikmati keindahan danau.

Karakteristik Danau Laut Tawar

Danau Laut Tawar adalah sebuah danau dan kawasan wisata yang terletak di Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Nanggröe Aceh Darussalam. Disisi barat danau ini terdapat sebuah kota kabupaten yaitu kota TAKENGON, yang juga merupakan ibu kota Kabupaten Aceh Tengah. Suku Gayo menyebut danau ini dengan sebutan Danau Lut Tawar. Luasnya kira-kira 5.472 hektar dengan panjang 17 km dan lebar 3,219 km. Volume airnya kira-kira 2.537.483.884 m³ (2,5 triliun liter).

Karakteristik umum


Danau Laut Tawar
  • Ada 25 aliran krueng yang bermuara ke Danau Laut Tawar dengan total debit air kira-kira 10.043 liter per detik.
  • Rerata kedalaman danau:
    • 35 meter dari pinggir danau: 8,9 meter.
    • 100 meter dari pinggir danau: 19,27 meter.
    • 620 meter dari pinggir danau: 51,13 meter.
  • Rerata suhu air danau diukur berdasarkan kedalaman:
    • 1 meter: 21,55 °C
    • 5 meter: 21,37 °C
    • 10 meter: 21,15 °C
    • 20 meter: 20,70 °C
    • 50 meter: 19,35 °C
  • Kecerahan tertinggi 2,92 meter (di tengah danau), sedangkan yang terendah 1,29 meter (Kp. Kuala II). Semakin tinggi kecerahan, maka semakin jernih air.

Karakteristik kimiawi


Sungai Peusangan, Takengon
  • Tingkat keasaman (pH) rata-rata 8,35.
  • DO, dissolved oxygen atau oksigen terlarut rata-rata 5,94 ppm.
  • BOD, biological oxygen demand atau kebutuhan oksigen oleh bakteri dan mikroba untuk menetralisir bahan organik kira-kira 0,8 ppm.
  • COD, chemical oxygen demand atau kebutuhan oksigen oleh bakteri dan mikroba untuk menetralisir bahan kimia sangat kecil sehingga tidak terdeteksi.

Flora

Ditemukan 46 jenis plankton yang terbagi atas 11 kelas di Danau Laut Tawar, dengan rincian kelas Chlorophyceae sebesar 35%, Bacillariophyceae 24%, Myxophyceae 9%, dan kelas lain sebesar 32%. Hydrilla sp., eceng gondok, dan kiambang juga dapat ditemukan hidup di pinggiran danau.

Fauna

Ditemukan 3 jenis moluska, 1 jenis annelida, 37 jenis ikan, dan 49 jenis serangga yang hidup di kawasan Danau Laut Tawar. Untuk hewan yang hidup di sekitar danau, ditemukan 20 spesies mamalia yang terbagi atas 13 famili, beberapa diantaranya termasuk hewan yang dilindungi, antara lain binturung, pukas, trenggiling, landak, kancil, napu, owa, siamang, tanado, harimau, kucing hutan, rusa, dan kijang.